Yu Zhong Wen adalah seorang yang pernah hidup pada zaman Kerajaan Wei Barat. Sejak kecil dia sangat suka belajar, dan di antara kawan-kawan sebayanya, dialah yang paling menonjol dalam hal hikmat dan kecerdikan untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Karena banyak membaca buku, mendengarkan orang berdiskusi, dan memperhatikan bagaimana orang tuanya memecahkan persoalan keluarga, maka pengetahuannya pun menjadi luas. Mula-mula ia menyelesaikan persoalan-persoalan di antara teman sebayanya. Lalu hikmatnya semakin terkenal dan orang-orang yang sedikit lebih tua daripadanya pun tidak jarang menceritakan permasalahannya, dan mereka pun mendapatkan jalan keluar yang cerdik dan memuaskan.
Yu Zhong Wen akhirnya diberi julukan Anak Ajaib. Ketenaran hikmat Anak Ajaib itu terdengar juga sampai di istana kerajaan. Hingga suatu hari, rumahnya kedatangan dua orang utusan pemerintah, mereka diminta pemerintah kabupaten membawa si Anak Ajaib untuk membantu menyelesaikan sebuah kasus kejahatan.
Dalam perjalanan menuju kantor kabupaten, Yu Zhong Wen bertanya kepéda utusan pemerintah mengenai perkara tersebut. Ternyata ada dua orang yang pergi ke pemerintah kabupaten dan saling menggugat. Salah satu dari mereka bermarga Ren, dan yang lain bermarga Du. Mereka berdua mengaku kehilangan seekor sapi. Kejadiannya sebagai berikut.
Pada suatu hari di padang luar kota yang sepi, ada seorang yang menemukan seekor sapi. Kedua orang tersebut mengaku bahwa itu adalah sapi mereka. Setelah mendengarkan semua permasalahan yang terjadi, di tengah perjalanan Yu Zhong Wen terus berpikir bagaimana memecahkan masalah tersebut dan mengetahui siapa sesungguhnya pemilik sapi tersebut.
Setibanya di pemerintah kabupaten, Yu Zhong Wen berkata, "Perkara ini sangat mudah dipecahkan.” Dia meminta utusan pemerintah menyediakan sebuah cemeti yang kasar untuk memukul sapi itu dengan sekeras-kerasnya. Maka, ditunjuklah seorang pengawal yang cukup kekar dan berotot untuk mencambuk sapi tersebut. Pengawal tersebut dengan segera menjalankan perintah dan mencambuk sapi itu dengan sekuat tenaga. Sapi itu meronta-ronta kesakitan.
Diam-diam, Yu Zhong Wen melihat dengan saksama wajah kedua orang yang saling menggugat itu. Ketika Tuan Ren menyaksikan sapi yang dipukul keras-keras itu menjerit kesakitan, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi sedih. Sebaliknya, wajah Tuan Du tidak menunjukkan emosi apa-apa.
Menyaksikan hal ini, Yu Zhong Wen sudah mampu menebak siapa pemilik sapi yang sesungguhnya. Tetapi masih ada satu lagi yang harus dilakukan untuk benar-benar mengetahui pemilik sapi yang sebenarnya. Yu Zhong Wen masih meminta kedua orang itu membawa kawanan sapi yang mereka miliki sampai di depan ruang pengadilan. Setelah masing-masing membawa kawanan sapi mereka, si Anak Ajajb lalu meminta sapi yang baru saja dicambuk itu dilepas. Begitu terlepas, sapi itu langsung melenguh gembira dan lari ke kawanan sapi milik Tuan Ren. Yu Zhong Wen langsung berdiri dan berkata, “Perkara ini sudah jelas. Sapi ini milik keluarga Ren.”
Raut wajah Tuan Du merah padam, karena sekarang ia tidak punya alasan membenarkan diri untuk bertahan dengan kebohongannya. Ia tidak berani lagi membuat keributan tanpa alasan. Ia pergi dengan murung membawa kawanan sapi miliknya.
Pemerintah kabupaten dan para pengunjung semua memuji Yu Zhong Wen, karena dalam waktu singkat bisa memecahkan masalah dengan baik.
Bagaimanakah Yu Zhong Wen dapat memecahkan masalah tcrsebut? Pertama, pemilik dengan sapi memiliki ikatan batin. Tatkala Tuan Ren mclihat sapinya dicambuk, hatinya sangat sedih. Kedua, ketika sapi itu melihat kawanannya, dia langsung menyatukan diri dengan mcreka. Inilah bukti-bukti yang diperlukan untuk memecahkan masalah ini.
MUTIARA HIKMAT
Hikmat dan keahlian memecahkan masalah tidak datang dengan tiba-tiba. Diperlukan waktu, pengalaman, dan pengetahuan untuk terus meningkatkannya.
Baiklah orang berhikmat mengejar dan menambah ilmu. Baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan.
Advertisement
EmoticonEmoticon