Pagi itu, seorang anak miskin ketahuan mencuri di sebuah toko obat. Yang empunya toko tidak terima dengan perbuatan anak tersebut dan memarahinya dengan kata-kata kasar sambil sesekali mendorong tubuhnya yang masih kecil. Kerumunan orang-orang di sekitar toko tersebut melihat kejadian tersebut, beberapa diantaranya melihat sinis anak miskin tersebut.
Seorang penjual mie yang tokonya di seberang jalan, datang dan menyelesaikan masalah tersebut. Ia membayar obat yang diambil oleh anak miskin tersebut. Lalu ia menyuruh anak perempuannya untuk membungkus satu porsi mie kuah. Obat dan mie kuah diserahkan penjual mie tersebut kepada anak miskin itu, tanpa berkata sepatah kata pun.
Anak miskin itu yang sedari tertunduk, melihat pemberian penjual mie tersebut, lalu memberanikan melihat wajah penjual mie itu. Dengan cepat, anak itu meraih kantong yang berisi obat dan mie kuah tersebut, lalu tanpa berterima kasih, lari secepat mungkin meninggalkan kerumunan orang-orang disana. Anak perempuan penjual mie yang melihat kejadian tersebut, kelihatan tidak begitu gembira dengan perbuatan ayahnya.
Tiga puluh tahun kemudian, di suatu hari, saat sedang melakukan rutinitas sehari-hari, penjual mie ini tiba-tiba pingsan dan terjatuh. Anak gadisnya segera melarikan ayahnya ke sebuah rumah sakit. Dokter melakukan pemeriksaan dan diagnosanya adalah pendarahan di otak akibat terjatuh. Seorang dokter ahli bedah dipanggil dari kota besar untuk berkonsultasi dengan anaknya.
Dokter ahli bedah ini ketika melihat pasiennya segera menyadari bahwa tubuh yang sedang terbaring didepannya adalah penjual mie yang pernah menolongnya. Maka, dengan sekuat tenaga dan daya upayanya, dokter itu mengusahakan pengobatan terbaik bagi penjual mie itu.
Namun, biaya pengobatan tidaklah murah. Tagihan pertama datang.... dan anak gadis penjual mie tersebut tidak bisa berkata-kata saat melihat angka yang tertulis di kertas tagihan. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar biaya rumah sakit, sedangkan ayahnya masih masih dalam kondisi koma. Jalan satu-satunya adalah menjual toko tempat ayahnya berjualan mie, ini juga berarti mereka akan kehilangan tempat tinggal.
Setelah beberapa lama dirawat oleh dokter tersebut, penjual mie akhirnya sadar dari koma dan dinyatakan sembuh. Mereka diperbolehkan pulang ke rumah. Anak gadis penjual mie sangat khawatir dengan besarnya biaya tagihan yang akan datang mengingat kondisi ayahnya yang cukup berat serta lamanya perawatan yang dijalani ayahnya. Saat membuka kertas tagihan dari bagian keuangan, gadis itu terkejut. Tagihannya NOL... dengan stempel LUNAS dari bagian keuangan rumah sakit tersebut. Di bagian bawah kertas tagihan, ada catatan kecil dari dokter ahli bedah yang merawat ayahnya,
"Sudah dibayar lunas dengan obat dan mie kuah 30 tahun yang lalu"
Video berikut adalah kisah dari penggalan cerita tersebut. Salam inspirasi
Advertisement
EmoticonEmoticon